Galeri
Mechandise

Prof. Soetandyo Wignyosoebroto


Monday ,30 November -0001

Prof. Soetandyo Wignyosoebroto adalah seorang pakar sosiologi hukum dan merupakan pelopor aliran antipositivime dalam hukum. Ia dikenal sebagai ilmuwan yang kritis dan konsisten. Guru Besar Emeritus Universitas Airlangga ini berpendapat bahwa ketimpangan tersebut disebabkan cara hakim memperlakukan  undang-undang. Hakim memang harus mendasarkan diri pada undang-undang,namun di lain pihak hakim seharusnya juga mempertimbangkan faktor-faktor yang tidak terlalu bersifat yuridis. Dengan kata lain, hakim harus memiliki kearifan sehingga keadilan tidak terletak pada undang-undang melainkan terletak pada hati nurani.

Hukum yang digerakkan untuk mengadili orang lemah sangatlah keras, sementara saat mengadili orang kuat, hukum menjadi lemah. Begitu pendapat Prof. Soetandyo Wignyosoebroto berdasarkan hasil pengamatannya selama ini. "Kadang hukum memang diskriminatif. Pada yang lemah, yang tidak bisa melakukan pembelaan diri, dia keras. Sebaliknya dia lemah pada yang kuat, yang dibentengi sekian pengacara,apalagi kalau punya posisi politik," ujarnya. Menurut Prof. Soetandyo, hukum itu adalah keniscayaan-keniscayaan. Hukum itu tidak selalu undang-undang. "Sholat lima waktu itu wajib hukumnya. Tapi undang-undang tidak mewajibkan orang untuk sholat. Sebaliknya, mengambil milik orang lain itu melanggar undang-undang, namun ada tradisi yang mengatakan bahwa sebagian milik orang kaya adalah hak/milik orang miskin.

Memang tak ada undang-undangnya, tapi itulah hukum yang ada dalam sanubari rakyat. Memberi sedekah di jalanan bertentangan dengan undang-undang kepengemisan, tapi memberi sedekah karena hati nurani itu kan hukum yang ada dalam sanubari rakyat juga," paparnya. Berpihak Pada Keadilan Sosial

 



Kembali ke penerima