Galeri
Mechandise

Maria Catharina Sumarsih


Monday ,30 November -0001

Maria Catharina Sumarsih. Bu Sumarsih adalah ibunda dari almarhum Bernadinus Realino Norma Irmawan (Wawan), salah seorang mahasiwa yang meninggal karena terkena peluru tajam tentara dalam Peristiwa Semanggi I ketika ia sedang menolong korban lain yang tertembak kakinya. Peristiwa 11 tahun yang lalu itu seperti menjadi titik baik dalam hidup Sumarsih. Dari seorang pegawai negeri sipil dan perempuan rumahan, ia telah menjadi seorang aktivis yang sering turun ke jalan menyuarakan keadilan bagi korban pelanggaran hak asasi. Bersama dengan keluarga korabn dari tragedi kekerasan politik di negeri ini, ia berjuang dalam proses advokasi berupa demonstrasi, pengaduan, investigasi dan public inquiry.

Pada awalnya ia bersama suami menunggu kasus penembakan anak mereka diproses sebagaimana semestinya, yaitu menunggu pelakunya dihadapkan ke pengadilan dan diganjar sepantasnya. Namun ternyata kasus tetap menggantung, sementara waktu terus berlalu. Justru kemudian kekerasan tersebut berlanjut dengan peristiwa Semanggi II. Penantian panjang penanganan kasus ini akhirnya menggusarkan ia dan para keluarga korban. Mereka kemudian mulai berkonsolidasi. Yang dilakukan oleh para keluarga korban kemudian mendatangi pelbagai lembaga yang menurut mereka merupakan otoritas yang bisa mempengaruhi penanganan kasus tersebut. Mulai dari Panglima ABRI Wiranto, Presiden Habibie, kantor-kantor partai politik (minus Golkar), DPR, Perwakilan PBB Komnas HAM dan banyak lagi.

Dalam misi ini Bu Sumarsih biasanya menjadi salah satu juru bicara yang vokal. Ia dan bersama keluarga korban yang lain juga berupaya keras agar terbentuk Pansus Trisakti dan Semanggi I-II di DPR. Ketika akhirnya Pansus dibentuk oleh DPR, para keluarga korban menjadi sedikit lega. Namun kelegaan itu buyar ketika Pansus tersebut memutuskan bahwa pengadilan militerlah yang akan menangani kasus tersebut, dan bukanlah Pengadilaan HAM. Sementara apa yang bisa diharapkan dari pengadilan militer yang serba tertutup. Realitas pahit inilah akhirnya membuat Bu Sumarsih kecewa. Dari balkon ruang rapat paripurna Pansus, telur busuk pun ia lemparkan ke anggota Pansus di bulan Juli 2001, sebagai cetusan kemuakan terhadap segala omong kosong"wakil rakyat" yang baru saja didengarnya. Pemerintahan berganti, mulai dari Habibie, Gus Dur, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), namun ternyata tetap tidak ada penyelesaian kasus yang mereka perjuangkan.

Terutama ketika SBY yang mantan Jenderal memimpin negara ini, keluarga korban memaknainya sebagai pertanda kian terjal dan berlikunya jalan menuju pengungkapan kasus pelanggaran HAM di negeri ini. Kini setelah sekian tahun berselang, perjuangan Bu Sumarsih tidak hanya sebatas menuntut keadilan sehubungan dengan penembakan mati puteranya. Pengalaman selama bertahun-tahun dilapangan dengan sendirinya telah memperluas jagad pikirannya. Korban kejahatan ternyata tidak hanya melanda keluarganya atau keluarga korban Peristiwa Semanggi saja. Banyak kasus yang menyebabkan penderitaan rakyat akibat pelanggaran HAM mulai dari Peristiwa 65, Peristiwa Tanjung Priok, Peristiwa Talangsari, Peristiwa Santa Cruz di dili, DOM Aceh, Papua dan sebagainya.

Ditahun 2004 ia aktif di pelbagai gerakan yang menentang militerisme dan kembalinya militerisme ke panggung politik. Tak hanya kandidat berlatar militer saja yang ia tolak,namun Gus Sholah yang juga Ketua Komisi penyelidikan Pelanggaran HAM Mei 1998 juga ia tolak karena maju menjadi Calon Wapres mendampingi Wiranto. Meskipun perempuan yang kini berusia 57 ini kadang merasa capek dengan apa yang dilakukan, tapi baginya tetap saja selalu ada peristiwa yang menguatkan semangatnya. Kegigihan beliau hingga detik ini belumlah padam.

Setiap hari Kamis pukul 16.00, didepan Istana Jalan Medan Merdeka Utara, ia bersama korban pelanggaran HAM lainnya melakukan aksi yang disebut Aksi Kamisan. Mereka hanya membentangkan spanduk, diam tanpa suara sebagai cara untuk mengingatkan pemerintah untuk menuntaskan sejumlah kasus pelanggaran HAM yang terjadi dimasa lalu. Bu Sumarsih adalah seorang wakil dari korban yang telah mengalami metamorphosis menjadi survivor, korban yang telah bangkit dengan kesadaran nuraninya akan realitas ketidakadilan dalam peristiwa pelanggaran hak asasi yang telah berlangsung lama di negeri ini dan tidak pernah tuntas dalam penyelesaiannya.

 



Kembali ke penerima