Galeri
Mechandise

Maria Hartiningsih


Monday ,30 November -0001

Maria Hartiningsih. Nama lengkapnya Maria Margaretha Hartiningsih. Biasa dipanggil "Maria", dalam tulisannya ia tak membubuhkan "Margaretha". Jadi ia lebih dikenal sebagai Maria Hartiningsih saja. Ia wartawan senior di harian Kompas, dengan fokus perhatian yang spesifik. Kapling yang ia pakai sering berukuran ekstra sebab tulisannya panjang-panjang. Topik utamanya adalah tentang perempuan. Dalam hal ini khususnya perempuan yang menderita akibat ketidakadilan di rumah tangga.

Nafas feminis yang senantiasa mengedepankan kesetaraan gender sangat terasa dalam sebagian besar karya jurnalistiknya. Siapa pun yang rajin mengikuti tulisannya akan segera bisa mengatakan bahwa Maria Hartiningsih sensitif terhadap mereka yang menderita. Tak hanya terhadap korban sistem patriarki tapi juga korban rezim yang represif dan tamak. Maka di samping tulisannya yang banyak tentang kaum perempuan korban kultur patriarki itu kita juga bisa menemukan tulisan semisal tentang kekerasan seksual kepada anak, pelacuran anak, perdagangan perempuan, reproduksi remaja atau kemiskinan struktural di pelbagai belahan bumi ini, terutama di Indonesia. Jadi spektrum karya jurnalistiknya cukup luas tapi dengan benang merah tunggal: penderitaan.

Orang yang rajin mengikuti tulisan Maria juga akan berpenilaian bahwa wartawati yang banyak meliput kegiatan global tersebut tak sekedar menulis. Ia selalu punya agenda dalam setiap tulisannya, yaitu mengubah sistem nilai atau aturan yang tak adil. Dengan demikian yang ia terapkan adalah jurnalisme pemihakan atau advokasi. Di sini yang dibela adalah yang lemah, yang tak berdaya, yang papa. Sebuah genre jurnalistik yang di Indonesia belum mendapat tempat secara umum . Gugatan pun sarat dalam tulisan dia. Tatkala menulis tentang perempuan sikap feminis Maria yang menyembul dan kesetaraan genderlah yang hendak ia suarakan. Ia ingin mendekonstruksi pemahaman tradisional tentang kodrat perempuan.

Tulisannya di Kompas edisi 13 Oktober 2003 misalnya ia berawal dengan kalimat : "Rendahnya penghargaan terhadap perempuan…berakar sekitar sepuluh ribu tahun lalu…pada saat itu laki-laki mulai membangun apa yang dinamakan patriarki-supremasi laki-laki." Dalam terusan tulisan ini ia banyak membahas budaya patriarki yang menyebabkan perempuan mengalami tindak kekerasan. Dalam sebuah artikel di Kompas edisi 14 Juli 2003 ia menekankan pentingnya kesetaraan gender di bidang pendidikan.

Menurut dia kaum perempuan berpendidikan tinggi lebih mampu mengamankan pekerjaan di luar rumah, mendapatkan kekuasaan politik dan menghindari terjadinya kekerasan domestik. "Kekerasan terhadap perempuan di ruang domestic acap kali terbisukan di balik pintu kamar, karena begitu banyaknya tabu yang dikonstruksikan melalui ajaran-ajaran budaya dan dogma-dogma agama," tulis dia. Kegiatan Maria Hartiningsih tidak hanya di dunia jurnalistik. Di luar dunia pers juga ia giat. Ia tercatat sebagai anggota badan pengurus ELSAM, sebuah LSM yang bergerak di bidang studi dan advokasi masyarakat. Ia juga seorang pembicara yang kerap ditanggap panitia seminar dan diskusi.

Di forum-forum seperti ini biasanya ia diminta berbicara tentang media massa dalam kaitan dengan topik-topik yang kerap ia angkat dalam tulisannya. Terkadang bisa lebih luas dari itu. Maka ia bisa berbicara mulai dari soal kekerasan terhadap perempuan, perilaku remaja, HIV, perdagangan anak dan perempuan hingga ke kekerasan pemilu hingga ihwal demokrasi dan civil society. Sebagai pembicara Maria sering melontarkan otokritik terhadap pers. Dalam makalah berjudul "Media Massa Berprespektif Gender" yang ia bawakan di sebuah diskusi dan workshop di Bandung, misalnya, ia menyebut munculnya pemberitaan yang tidak berpihak kepada perempuan korban kekerasan disebabkan karena redaktur kurang atau tidak berspektif gender.

Menurut dia, pilihan kata (diksi) dan konsep bahasa serta seluruh gaya pemberitaan yang melecehkan dan menjadikan peristiiwa perkosaan sebagai sesuatu yang lucu merupakan alat yang luar biasa tajam untuk melakukan perkosaan ganda setelah si perempuan diperkosa dalam arti yang sebenarnya. Pada sebuah seminiar bertopik Media dan Berita Kekerasan Terhadap Perempuan, Maria mengatakan pemberitaan media massa yang menyangkut kasus yang dialami perempuan cenderung menimbulkan, bukan saja second rape, tapi malah victimizing victim. "Hal itu salah satunya karena kecendrungan wartawan malas untuk investigasi langsung ke lapangan dan lebih mendasari berita versi polisi."

 



Kembali ke penerima