Galeri
Mechandise

Wiji Tukhul


Monday ,30 November -0001

Wiji Tukhul. Percakapan melalui telepon di tanggal 19 februari 1998 adalah percakapan terakhir Wiji Widodo yang lebih dikenal dengan nama Wiji Thukul dengan istrinya Dyah Sujirah yang sering dipanggil Mbak Sipon. Pada saat itu Wiji Tukul sudah dua tahun dalam "pelariannya" karena dikejar dan dikuntit oleh aparat militer dengan tuduhan yang sama sekai tidak berdasar, yaitu selaku aktivis politik dia harus ikut bertangggung jawab atas kerusuhan yang meneror Jakarta seputar tanggal 27 Juli 1996 (sumber: Laporan Kontras, Data untuk testimoni disebarkan pada Maret 2000). Itulah cerita "resmi" terakhir dari sosok Wiji Thukul yang diterbitkan.

Ketika ia dinobatkan sebagai peraih Yap Thiam Hien Award tahun 2002, sudah menjelang 5 tahun kabarnya tak didengar dan sudah 2 tahun 6 bulan Wiji dinyatakan sebagai "orang yang dihilangkan dengan paksa" oleh KONTRAS. Wiji lahir dan dibesarkan di keluarga dari kalangan masyarakat yang termarjinalisasi di Solo. Dalam lingkungan masyarakat miskin perkotaan itu, Wiji sejak usia belia berkeras ingin menjadi penyair dan pada usia menginjak dewasa puisi-puisinya mulai mempertanyakan berbagai kenyataan hidup orang miskin. Mengungkap berbagai ketidak adilan dan pengingkaran harkat martabat manusia, sehingga masyarakat tetap miskin bahkan dimiskinkan.

Pada suatu kesempatan wawancara dengan majalah Sastra (Jurnal Revitalisasi Sastra Pendalaman, 2 November 1994), sempat Wiji mengungkapkan posisinya; "… Saya bukan penyair protes. Saya menyadari proses. Menulis puisi persoalannya selalu kembali ke persoalan diri saya sendiri …. Begitu saya drop out dari sekolah (1982) saat itulah saya sadar tentang arti hidup yang sebenarnya. Ada semacam pembenturan nilai. Yah, setelah keluar sekolah akhirnya saya harus memilih jadi tukang pelitur. Saya harus mengatur diri sendiri dan memilih mana yang baik dan tidak. Kalau di sekolah yang baik sudah ditentukan, padahal hal itu belum tentu baik bagi kita …" Wiji berproses dalam perjalanan dirinya sebagai sastrawan yang buah karyanya disebut sebagai sastra rakyat-sastra pemberontakan-sastra perlawanan.

Yang bagi Wiji sendiri adalah suatu gambaran kenyataan biasa dari lingkungan hidup sekitarnya dan proses kegiatan "politiknya" yang ia ekspresikan. Wiji menyatakannya dengan tegas bahwa seniman harus menperjuangkan gagasannya. Jadi tidak ada maksud Wiji memperjuangkan nilai-nilai atau wacana hak asasi manusia. Apalagi memperjuangkan suatu cita-cita yang mengandung nilai-nilai hak asasi manusia. Bagi Wiji, seperti dituturkan oleh adik bungsunya Wahyu Susilo "… Saya kira apa yang menjadi kriteria perjuangan hak asasi manusia bagi sekeluarga, selingkungan, itulah yang kami hadapi sehari-hari. Entah itu persoalan keadilan, persoalan kemiskinan, ataupun persoalan–persoalan ketidakberesan. Jadi kami tidak merumuskannya apakah itu persoalan hak asasi atau persoalan yang lain.

Awal mula kami beraktivitas, selalu merespon kejadian-kejadian yang ada di seputar kami. Misalnya di kampung kami ada pabrik dengan nama pabrik Sariwarna yang merupakan sumber pencemaran." "… Tetapi setelah kami berinteraksi dengan kelompok-kelompok mahasiswa dan kelompok seniman yang lain … kami bisa dan itu salah satu model atau bentuk dari perjuangan demokrasi dan hak asasi manusia. Pada awalnya itu adalah persoalan kami yang tidak kami rumuskan pemecahannya akan tetapi itulah yang menjadi masalah sehari-hari yang kami hadapi." Jika orang melihat Wiji seperti seorang politisi yang menggunakan puisi sebagai alat perjuangannya untuk mempengaruhi kekuasaan, bagi Wiji, puisi hanya ekspresi kenyataan lingkungannya yang digunakan sebagai alat penyadaran bagi orang-orang di lingkungannya. Dia sesunggunya tidak bermaksud membela rakyat (penyair kerakyatan), melainkan membela dirinya sendiri, lingkungan, komunitas yang menghidupi dirinya: tukang pelitur, istri tukang jahit, bapak tukang becak, mertua pedagang barang rongsokan, dan lingkungan hidupnya yang melarat.

Bagi Wiji memperjuangkan kehidupan di lingkungannya lewat karya budaya, berupa puisi atau membentuk Sanggar Suka Banjir di kampungnya, adalah ekspresi wajar-wajar saja. Namun bagi rejim di kala itu bukan sesuatu yang biasa jika itu dilakukan oleh masyarakat biasa. Dalam kacamata rejim penguasa kala itu, Rejim Soeharto, pementasan puisi atau teater bisa berujung pemberontakan. Jadi aktivitas apapun termasuk berkesenian tetap harus seijin rejim penguasa. Sebaris puisi misalkan, … : "Di ujung gang yang gelap itu//Dengan geram seorang pemuda//Mengepalkan tinjunya dan berteriak//Merdeka…", bisa dijadikan persoalan bagi aparat intelijen di kala itu. Dalam proses perijinan pementasan, bait-bait puisi itu bisa saja dilarang dibacakan sebab panitia sulit menerangkan dengan telak agar petugas mengerti bahwa tak ada maksud apa-apa selain itu ekpresi seni dari seorang sastrawan.

Wiji Thukul tidak melakukan kalkulasi perimbangan kekuatan dalam memperjuangkan haknya. Selemah apapun tak membuatnya menjadi tak berdaya melawan tirani, demi pemanusiaan dirinya dan kaumnya. Seperti Namanya Wiji Thukul … biji yang baik, … benih yang "tulen",.. ia kan tumbuh terus, … begitulah Wiji Widodo memilih namanya menjadi Wiji Thukul. Dan Wiji Thukul selalu kembali. Dalam ingatan-ingatan kita bagi orang-orang muda yang mau menggali jiwa perlawanan. Wiji Thukul sebuah titik cahaya perlawanan. Sebuah peringatan bagi generasi setelahnya, Hanya Ada Satu Kata : LAWAN!.

 



Kembali ke penerima