Galeri
Mechandise

20 Tahun Wajah HAM Indonesia (1992-2011)

20 Tahun Wajah HAM Indonesia (1992-2011) (foto: jacko agun)


Tuesday ,02 April 2013

Kategori : Info & Edukasi HAM

Resensi
20 Tahun Wajah HAM Indonesia (1992-2011)
Yulia Siswaningsih et.all.
Yayasan Yap Thiam Hien | Desember 2012
Halaman: xx, dan 404.
Oleh: Edi Cahyono

Adalah seorang Soraiya Kamaruzzaman yang gigih mengadvokasi kaum perempuan korban kekerasan di Aceh dalam kurun Daerah Operasi Militer (DOM). Suatu keberanian dan pekerjaan sangat berat dalam membantu korban perkosaan, pelecehan seksual, dan berbagai penistaan yang dilakukan oleh aparat militer (TNI), lapisan elit tradisional, suami dan lingkungan. Sementara sistem hukum dan peradilan tidak berjalan karena berada dalam represi dan hegemoni rejim militer. Kegigihannya membuat tim Yap Thiam Hien Human Rights Award memberikan penghargaan kepada Soraiya pada 2001.

Hakikat dari keadilan hukum adalah ‘membela siapa pun tanpa prasyarat’, meskipun calon penerima penghargaan ada di kubu yang berseberangan dengan Rakyat, sejauh hal tersebut mencerminkan ‘rasa adil’ dan sepak terjangnya membuktikan ‘penegakkan kebenaran dan keadilan’ tim Yap Thiam Hien pun memberikan Awardnya. Misalnya, terhadap Trimoelja Darmasetia Soerjadi, pembela Yudi Susanto, direktur PT Catur Putera Surya (CPS) –sebuah pabrik arloji di Sidoarjo, Jawa Timur,-- yang dituduh menjadi ‘otak’ Pembunuhan Marsinah (1994). Sementara Trimoelja ‘merasa’ pelaku Pembunuhan Marsinah bukan Yudi Susanto. Trimoelja dikenal melalui pledoi berjudul Republic of Fear, yang menyampaikan “orang tanpa proses bisa diciduk, disiksa, dianiaya, serta dibunuh, atau hilang misterius,” dalam menjelaskan apa yang terjadi pada Marsinah.

Perjalanan sejarah Indonesia memang berhiaskan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Prestasi politik para elit direngkuh melalui pertumpahan darah dan penyudutan hak-hak dasar kemanusiaan. Beruntung dalam kehidupan kita dapat ditemukan sosok ‘intan’ bernama Yap Thiam Hien.

Yap berprofesi sebagai advokat (pengacara). Sejarah hidupnya telah mengukir keharuman luar biasa. Yap lahir di Kutaraja, Aceh pada 25 Mei 1913 dan meninggal di Brussel pada 15 April 1989. Arief Budiman menjuluki Yap sebagai Triple Minority Indonesia yaitu: Tionghoa, Kristen dan Jujur. Yap kaya pengalaman hidup. Bersekolah di AMS dan Hollands-Chineesche Kweekschool (HCK), menjadi guru di wilde schoolen (sekolah yg tidak diakui Pemerintah Hindia Belanda) dan sekolah kaum Tionghoa di Rembang dan Batavia; masuk Rechsthogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) di Batavia. Tahun 1946 pergi ke Belanda untuk studi hukum di Universitas Leiden. Berlanjut sekolah ke Inggris. Lingkungan studi membawa dia banyak bergaul dengan kalangan sosial demokrat dan partai buruh (Partij van de Arbeid). Usai menjalani studi, Yap ikut mendirikan Baperki, Peradin, Regional Council of Human Rights in Asia; anggota Konstituante, International Commission of Jurist.

Tahun 1968 dia dijebloskan ke penjara karena menentang korupsi di lembaga pemerintahan; juga membela mereka yang dijebloskan ke penjara tanpa melalui proses peradilan, khususnya para tahanan PKI yang dituduh melakukan Pemberontakan 1965.

Tahun 1980 Yap mendapat penghargaan The William J. Brennan, Jr. dari Universitas Rutgers (New Jersey) AS. Saat itu Richard D. Singer, dekan Rutgers School of Law-Camden menyatakan kesannya: “He is one of the great lawyer of the world. He could have had a comfortable, highly lucrative carrier. Dr. Yap chose otherwise. He chose a path of struggle, he chose a path of sacrifice. He decided to live dangerously.” (h. 13)

Setelah tiada, nama Yap diabadikan untuk sebuah Penghargaan (Award) terhadap sosok-sosok yang juga berjuang secara tulus di berbagai bidang dan sektor kehidupan. Todung Mulya Lubis menjadi penggagas Award ini. Berawal dari Yayasan Pusat Studi HAM (Yapusham) yang memulai Award tahun 1992. Namun Yapusham tidak aktif dan vakum tahun 2004, sehingga tidak ada Penghargaan antara 2005 s/d 2007. Pada 2008 Imparsial menyelenggarakan Yap Thiam Hien Human Rights Award. Dan pada 2009 dan 2010 dilanjutkan oleh Indonesia Legal Roundtable (ILR). Baru pada 2011 diselenggarakan oleh Yayasan Yap Thiam Hien. Visi Yayasan Yap Thiam Hien “bertekad menggugah partisipasi masyarakat luas untuk memberikan dorongan (encouragement), pemberdayaan (empowerment) dan perlindungan (protection) bagi mereka yang berjuang di bidang penegakan Keadilan dan HAM.” (h. 5)

Sejak 1992 hingga 2011, sejumlah nama telah menerima Award ini yaitu: Johny Nelson Simanjuntak, HJC Princen, H. Muhidin, Marsinah, Trimoelja D. Soerjadi, Ade Rosita Sitompul, Petani Jenggawah, Sandyawan Sumardi, KONTRAS, Farida Hariyani, Sarah Lery Mboeik, Yosepha Alomang, Urban Poor Consortium, Suraiya Kamaruzzaman, Ester Indahyani Jusuf, Wiji Thukul, Maria Hartiningsih, Maria Catharina Sumarsih, Siti Musdah Mulia, Pastor Yohanes Djonga, Fauzi Abdullah, Asmara Nababan, dan Soetandyo Wignjosoebroto.

Buku ini cukup baik dalam memaknai Hak Asasai Manusia (HAM). Melalui profil para penerima Award, kita dibawa menyelami kerja-kerja individu, komunitas dan lembaga dengan cara sedemikian dekat dengan persoalan yang ditangani. Suatu mindedness (berada di dalam alam situasi/peristiwa) persoalan. Dirangkum dari 27 orang yang menjadi tim penulis. Pemaparan seperti ini akan mengajak orang berkeinginan untuk lebih mendalami, concern, pula tidak berkesan terlalu ‘intelek’ dan menggurui karena halaman-halaman buku tidak dihiasi dengan berbagai catatan (kaki) dan rujukan. Meskipun pada bagian akhir dilampirkan sejumlah referensi bila pembaca ingin lebih mendalami persoalan. (Redaksi)


Berita lainnya


 


Kembali ke berita