Galeri
Mechandise

Dugaan Eksploitasi Anak di Panti Asuhan Samuel

Panti Asuhan Samuel di Sektor 6 A Summarecon Gading Serpong, Kecamatan Kelapa 2, Tangerang, Banten. (foto: ist)


Tuesday ,25 February 2014

Kategori : Berita

Aparat Polda Metro Jaya bersama dengan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), berhasil mengevakuasi 12 anak yang menjadi korban eksploitasi anak yang dilakukan Yayasan Panti Asuhan Samuel, yang beralamat di Sektor 6 Blok GC 10 No. 1, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Senin (24/2).

Kasus eksploitasi anak itu sebelumnya dilaporan ke Bareskrim Polri pada 10 Februari lalu oleh Gading Satria Nainggolan dengan nomor laporan LP/139/II/2014/Bareskrim. Lalu pada 19 Februari dilimpahkan ke Subdit Renakta Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Dari hasil laporan itu polisi melakukan penyelidikan dan akhirnya berhasil mengamankan 12 anak korban eksploitasi tersebut. Pemilik yayasan yang bernama Samuel diduga melakukan tindak pidana penelantaran dan diskriminasi terhadap anak sesuai Pasal 77 dan Pasal 80 UU Perlindungan Anak Tahun 2003.

Sementara, Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait membenarkan telah terjadi eksploitasi dan penelantaran anak yang dilakukan pihak yayasan tersebut. Anak-anak tersebut ditampung di tempat yang kondisinya tidak layak, sehingga pihaknya segera mengevakuasi anak-anak tersebut. Selanjutnya, Komnas PA juga menemukan, dua puluh anak diasuh oleh hanya satu orang yang sudah tua.

"Ini sudah tidak memenuhi standar dalam pelayanan panti asuhan, dan tidak bisa menjadi alasan kalau pemilik panti mengatakan tidak ada yang mau jadi pengasuh. Kalau tidak sanggup jangan mendirikan panti asuhan," ujar Arist. 

Rencananya Komnas PA juga akan mengonfirmasi izin yayasan tersebut ke Departeman Sosial.  Nantinya 12 anak akan dikirim ke panti asuhan milik Departemen Sosial milik pemerintah. Arist menambahkan, tindakan evakuasi dilakukan setelah pihaknya menerima laporan adanya dugaan penganiayaan, penyekapan terhadap anak-anak di yayasan tersebut. Dari hasil investigasi, ditemukan adanya seorang bayi berusia 3 bulan yang tewas diduga karena ditelantarkan. 

Sebelumnya, pelapor dan anak asuh tertua di Panti Asuhan Samuel, Henokh, mengatakan dirinya kabur dari panti dan melaporkan kekerasan terhadap anak asuh dipanti itu kepada donator dan polisi. Namun polisi saat itu tidak menindaklanjuti laporannya. Panti Asuhan Samuel dibentuk oleh Pendeta Samuel Watulingan dan Yeni Winata setelah terjadi perpecahan pengurus di Yayasan Panti Asuhan Ayah dan Bunda, tempat Samuel bekerja sebelumnya.  

Kepala Divisi Non Litigasi LBH Mawar Saron Jecky Tengens, yang mengawal kasus ini, membenarkan bahwa laporan terkait Panti Asuhan Samuel tak pernah diterima Mabes Polri. Laporan dibuat tanggal 11 Februari 2014. 

"Padahal jelas kasus ini merupakan kasus kekerasan pada anak yang membutuhkan perhatian Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Kepolisian. Kami berharap polisi segera mengambil tindakan," ujar Jecky.. (Redaksi)


Berita lainnya


 


Kembali ke berita