Galeri
Mechandise

Dawam: Cerita Anjing Masuk Surga

Ilustrasi Anjing Masuk Surga (foto: ist)


Wednesday ,05 February 2014

Kategori : Blog

Terinspirasi oleh kisah seekor anjing yang setia terhadap tuannya, Dawam Rahardjo, seorang cendikiawan muslim menuliskan cerpen dengan judul “Anjing yang Masuk Surga. Cerpen ini adalah bentuk pergulatan olah pikir seorang Dawan yang mementang pola-pola pikir yang sempit yang sering kali terjadi di masyarakat. Cerpen ini pernah dimuat di KOMPAS, 19/6/2005, dan diterbitkan kembali dlm buku kumpulan cerpen M. Dawam Rahardjo, "Anjing yang Masuk Surga" (Penerbit Jalasutra, 2007). Berikut wawancara tim redaksi bersama Dawam Rahardjo yang dilakukan beberapa waktu lalu 

 T  : Mengapa terlintas untuk menulis cerpen yang sempat menghebohkan itu? 

J  : Saya mendengar suatu hadits Nabi yang mengatakan bahwa ada seorang pelacur tapi dia itu masuk sorga gara-gara dia memberi minum pada anjing yang kehausan. Kok begitu ya? Apa ada rahasianya anjing itu? Nah, dari situ…. Saya mempunyai seorang teman, Aldi Anwar. Dia itu mengatakan lebih suka kucing daripada anjing karena anjing itu penjilat –mengikuti siapa yang memberi makan. Kalau kucing tidak. Tapi dalam kenyataannya tidak begitu. Kucing itu pencuri, kucing itu tidak jujur. Selalu mengelabui…mencari kesempatan untuk mencuri. Sedangkan anjing tidak mau. Anjing itu tidak mau mencuri, dan anjing itu setia kepada tuannya. Dan dia tidak berbuat jelek. Sehingga terpikir oleh saya bahwa anjing itu sebetulnya adalah malaikat. Anjing itu seperti malaikat. Malaikat adalah mahluk yang hanya bisa berbuat baik, tak bisa berbuat jahat. Sedangkan anjing yang dianggap hina justru mempunyai sifat-sifat malaikat itu. 

Mengikuti semua aturan-aturan yang ditetapkan oleh Tuhan.  Nah kemudian, di kampung saya di Solo, di Kauman itu, atau di Pasar Kliwon ya, dulu itu waktu saya kecil kalau ada anjing, itu dilempari karena anjing dianggap najis, dan sebagainya. Saya pada waktu itu tidak mengerti, dan saya juga jijik terhadap anjing. Saya tidak berani dekat-dekat dengan anjing.

Tapi ketika saya di Mekkah, kok banyak sekali anjing di sana. Di mana-mana ada anjing…di Mekkah itu. Jadi penduduk sana memelihara anjing. Kemudian di Padang, Sumbar, itu ulama-ulama pun memelihara anjing. Ada pesantren Diniyah di Padang Panjang, anjingnya lebih banyak daripada santrinya. Banyak sekali di sana. Kemudian saya pernah datang ke Buya Hamka. Saya heran, lho Buya Hamka kok di depan (rumah) ada anjingnya, padahal Buya Hamka seorang ulama. Memang dia diejek oleh ulama-ulama NU bahwa dia itu kyai anjing.

Nah, persepsi semacam itu ingin saya balik. Kebetulan saya punya teman yang memelihara anjing. Anjing herder yang besar/gede itu, yang memperlihatkan kejujuran yang luar biasa. Dia mengabdi pada tuannya, dan sebagainya. Pokoknya anjing yang betul-betul..anu..begitu. 

Tapi pada suatu ketika, ketika keluarga teman saya itu sedang bercengkarama di depan tivi, anjingnya itu kemudian tidur di muka tivi….ternyata anjing itu meninggal. Saya terharu dengan cerita teman saya itu. Namanya Pak Usamah, maka saya lalu membuat fiksi Anjing Yang Masuk Sorga itu. Dan di dalam Al Qur’an itu ada cerita tentang anjing yang masuk sorga –anjing Assyhabul Kahfi- ada di surat Al Kahfi. 

Di surat itu dinyatakan bahwa anjing tersebut masuk sorga. Nah dari situlah saya rangkaikan sebuah cerita pendek. Memang banyak orang yang sinis terhadap saya : ini apa-apaan kok menentang suatu pendapat umum? Anjing kok masuk sorga? 

T  : Jadi tokoh Usamah dalam Anjing Yang Masuk Sorga itu adalah tokoh sebenarnya?

J  : Ya, ada orangnya. Tapi keluarganya itu ada yang marah/tersinggung, kok memakai nama Pak Usamah. Tapi itu kan fiksi, saya tidak bisa dimintai pertanggungjawaban apakah cerita itu betulan atau tidak. Bukan suatu karya ilmiah, tapi karya fiksi. Fiksi…khayalan… 

T  : Bagaimana Bapak memandang anugerah Yap Thiam Hien Award 2013 yang dianugerahkan kepada Bapak? (menit 21:54)

J  :  Ya.. saya sebetulnya… anu…terkejut juga. Kok saya dapat anugerah itu. Tapi saya bisa aja menebak, mungkin karena saya berjuang membela kelompok minoritas, yaitu Ahmadiyah, Lia Eden dan kelompok Kristen..yang gereja-gerejanya ditutup. Saya ikut mendukung ke DPR. Ketika Lia Eden, saya justru memimpin demontrasi ke Departemen Agama. Jadi saya bisa memahami, begitu. Dan saya merasa bahagia, karena apa yang saya perjuangkan ada harganya. Banyak kawan-kawan yang mengucapkan selamat, termasuk Menteri Perdagangan Pak Gita Wirjawan itu di-Twitter-nya mengucapkan selamat kepada saya. Dan kemarin saya bertemu (dia) di airport. Dia mengucapkan selamat kepada saya. Jadi saya ya…senang. 

T  : Hal atau momen apakah yang paling  membuat Bapak sangat yakin dengan keputusan Bapak untuk teguh mempertahankan keberlangsungan pluralisme di Indonesia? 

J  : Pertama-tama begini, pluralisme itu suatu keniscayaan. Jadi, makin moderen masyarakat itu makin plural. Karena masyarakat moderen itu adalah masyarakat yang bebas sehingga karena itu timbul banyak pandangan, timbul banyak pemimpin, timbul banyak kepentingan. Dan juga merupakan potensi sumber konflik pluralisme. Nah, ini berbeda dengan masyarakat multikultural.  

Masyarakat multikultural itu juga terdiri dari berbagai kelompok dan keyakinan, tapi mereka itu hidup terpisah, dalam isolasi masing-masing, tidak berkomunikasi, sehingga mereka tidak rawan konflik. Tapi masyarakat multikultural itu tidak bisa lagi dipertahankan sekarang karena mobilitas penduduk yang makin kuat, dan sebagainya. Sehingga terjadi tatap muka, orang masuk ke komunitas tertentu, yang lain juga masuk ke komunitas yang lain.  

Di kantor, misalnya, sekarang ini pasti plural. Tidak mungkin tidak plural. Kalau itu tidak disertai toleransi, itu akan menimbulkan bencana. Sebaliknya, kalau masyarakat plural itu ada toleransi, di mana tiap-tiap identitas bisa melakukan aktivitas secara bebas, maka itu bisa merupakan potensi. Orang bisa saling belajar, bahkan juga bisa saling bekerjasama, dan itu akan mendinamisir masyarakat. Dan hal semacam itu saya temukan juga dalam Al Qur’an.  

Dalam Al Qur’an dikatakan bahwa manusia itu diciptakan dalam kondisi plural, tetapi tujuannya  adalah untuk saling memahami, untuk saling belajar –yang disebut dengan ta’aruf, saling memahami, saling belajar. Saling memahami sehingga mereka bisa saling menghargai. Nah, kalau orang itu bisa saling menghargai maka berdasarkan teori Habermas, maka akan timbul –apa itu- orang saling memanfaatkan. Saling belajar dan saling memanfaatkan sehingga terjadi suatu dinamika. Karena itu, maka saya yakin bahwa saya harus menciptakan, mengembangkan gagasan pluralisme itu. Karena saya yakin, berdasarkan teori itu tadi. 

T  : Bagaimana pendapat Bapak tentang kondisi kehidupan beragama di Indonesia saat ini? Apakah jauh lebih buruk daripada ketika era Orde Baru?  

J  : Di jaman Orde Baru konflik antaragama, antargolongan itu dicegah. Tidak diperbolehkan. Ada doktrin SARA. Tapi itu diciptakan dalam kondisi yang tidak normal. Artinya, di bawah tekanan pemerintah. Jadi, pada masa Orde Baru itu memang lebih damai, dalam tanda kutip lebih toleran, tapi itu karena keterpaksaan. Nah, sekarang pada masa Reformasi otoritarian itu dihapuskan. Ada kebebasan. Nah, ini merupakan suatu ujian, sehingga justru timbul konflik-konflik. Hal yang dulu bisa dicegah dengan otoritarisme sekarang menjadi sulit. Sehinga karea itu timbul peristiwa-peristiwa yang menunjukkan intoleransi.  

Dan dalam berbagai laporan dikatakan bahwa di Indonesia itu –dengan timbulnya demokrasi itu- tidak dengan sendirinya timbul toleransi. Bahkan ada hubungan yang terbalik, ada korelasi yang negatif, bahwa makin demokrasi itu prosedural / struktural, makin banyak intoleransi. Tapi tidak apa-apa, karena ini merupakan suatu pembelajaran sehingga karena itu ini harus dipertahankan. Jadi, demokrasi harus dipertahankan, tapi kita harus memperjuangkan toleransi. Karena kalau tidak, maka demokrasi itu akan menimbulkan konflik yang lebih besar. 

 T  : Bapak optimis bahwa kehidupan beragama di Indonesia akan lebih baik? 

J :Ya, saya optimis, karena apa – tiap-tiap agama itu membutuhkan kebebasan. Jadi beragama/berkeyakinan tanpa kebebasan itu adalah keyakinan palsu. Jadi, keyakinan hanya otentik apabila itu diperoleh dengan cara bebas. Orang boleh memilih hal yang buruk dan yang baik, dan dia harus bertanggung jawab terhadap pilihannya itu. Sehingga maka setiap agama itu membutuhkan kebebasan. Dan tiap agama justru untuk meningkatkan mutu keimanan atau untuk meningkatkan mutu keberagaman. Itu diperlukan kebebasan. Sehingga kalau orang bersikap itu bertanggung jawab. Karena dalam pilihan bebas itu harus disertai dengan tanggung jawab. Orang boleh bebas, tapi harus bertanggung jawab.  

T  : Bahwa agama itu harus ditafsir secara terus-menerus agar mencegah kematian pikiran. Menurut Bapak bagaimana cara ideal untuk menafsir secara terus-menerus itu?  

J  : Itu akan dengan sendirinya terjadi. Karena apa, karena terjadi perkembangan ilmu pengetahuan. Terjadi perkembangan informasi, terjadi komunikasi yang lebih intens. Kemudian juga literasi itu menyebabkan  setiap individu itu bisa mendapatkan  akses langsung ke kitab suci. Kalau dulu, orang menerima ajaran-ajaran kitab suci melalui perantaraan para ulama, sementara ulama yang memiliki ilmu dan spesialisasi untuk mempelajari dan mengajarkan itu. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Bukan berarti ulama tidak diperlukan, tetapi setiap orang bisa langsung melakukan interpretasi sehingga dengan begitu maka pasti akan timbul interpretasi-interpretasi baru. Jadi akan dengan sendirinya –dengan kemajuan ilmu pengetahuan, kemajuan teori, kemajuan informasi itu – akan terjadi proses reinterpretasi secara terus-menerus. Tidak perlu dipertahankan, akan terjadi dengan sendirinya.  

 T  : Apa buku favorit Bapak, yang paling menginspirasi bapak? 

J  : Al Qur’an. Memang saya….. ada banyak buku yang saya baca dan saya kagumi, tetapi tidak secara terus-menerus mengilhami saya. Tapi kalau (saya) membaca Al Qur’an itu selalu timbul ide-ide baru, pemikiran-pemikiran baru. Jadi sangat mengilhami. Jadi, Al Qur’an itu seolah-olah merupakan wahyu yang turun kepada saya sendiri. (Redaksi)


Berita lainnya


 


Kembali ke berita