Galeri
Mechandise

Riwayat Singkat 25 Tahun Paroki Kampung Duri


Monday ,18 February 2013

Kategori : Info & Edukasi HAM


Oleh: Rm. M. Widyolestari MSC  

Suatu perjalanan waktu yang cukup panjang apabila kita melihat dari penantian selama 25 tahun untuk menjadi sebuah Gereja yang tidak hanya diakui oleh seluruh umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta, tetapi juga dapat diterima oleh masyarakat umum di sekitar Paroki Kampung Duri. Dan di usianya yang ke 25 tahun ini tetaplah menjadi Pengharapan Yang Tak Pernah Pudar. Berikut adalah penggalan – penggalan cerita singkat Paroki Kampung Duri dalam perjalanan menggapai harapan hingga menuju usia yang ke 25 tahun.  

Pada tahun 1963 ; dikarenakan kesulitan umat Katolik di daerah Kampung Duri mencapai Gereja Kemakmuran untuk beribadah yang pada saat itu dikelilingi rawa-rawa, maka atas inisiatif dan pemikiran orang-orang yang tercatat sebagai pelopor dan pendiri tempat beribadah bagi umat Katolik di daerah Kampung Duri diusahakanlah suatu tempat sebagai tempat ibadah sementara. Atas usaha dan doa yang terus menerus membuahkan hasil, berkat kemurahan hati Bapak Lim Pit Min yang merelakan rumahnya digunakan sebagai tempat ibadah sementara. Namun akhirnya tempat tersebut tidak dapat lagi menampung umat yang datang beribadah hingga didapatlah lokasi yang sekarang dikenal dengan RB Damai. Di sanalah umat Katolik mulai bisa beribadah dengan cukup baik yang didampingi oleh Pastor Jacques Alkemade MSC. Dan disana pula berdirilah Sekolah Katolik Damai dengan beberapa kelas TK dan SD.

Pada tahun 1967 ; dengan berkat Tuhan umat Katolik Kampung Duri mendapatkan lahan empang di daerah Jamblang Jakarta Barat yang akan dijadikan lokasi pembangunan Gereja Katolik Damai dan sekolah. Kemudian di tempat inilah rencananya akan menjadi tempat pusat kegiatan sekolah dan tempat ibadah di bawah penggembalaan Pastor Jacques Alkemade MSC.

Pada tahun 1969 ; setelah setahun empang diurug dan kemudian mulailah dibangun beberapa ruang kelas yang kemudian disekat untuk pembatas. Pada hari Sabtu dan Minggu sekat kelas tersebut dibuka dan ruangan digunakan untuk tempat ibadah. Hal ini dilakukan bertahun-tahun hingga jumlah kelas dapat bertambah, tapi usaha pembangunan tidaklah mudah selain masalah biaya, juga ada beberapa warga sekitar yang menentang pembangunan tersebut.

Tapi berkat usaha dialog-dialog dengan tokoh masyarakat sekitar maka pembangunan dapat berjalan lancar hingga sekolah dapat berdiri dengan bentuk menyerupai huruf“L”. Pada tanggal 15/5/1975 ; umat Katolik Kampung Duri mendapatkan surat keterangan tidak keberatan untuk membangun gedung gereja / tempat ibadah di lokasi Sekolah Damai dari warga sekitar, Ketua-ketua RT dan RW serta dari Kelurahan Kampung Duri dan Kecamatan Tambora selaku pemerintah setempat dan instansi terkait. Itu adalah peluang terbaik yang sempat dimiliki oleh umat Katolik Kampung Duri, tapi sayang hal itu tidak segera ditindaklanjuti oleh para pengurus pada saat itu dengan berbagai macam alasan.

Pada tahun 1980 ; seiring dengan penambahan pembangunan di Sekolah Damai, dibangunlah pula aula serba guna di belakang deretan kelas selain sebagai tempat kegiatan sekolah, rapat, olah raga, dan juga sebagai tempat ibadah. Pada tahun 1981 ; dibentuklah Panitia Pembangunan Gereja (PPG) Damai Kristus Paroki Kampung Duri. Hal ini diharapkan agar PPG dapat bertugas dan bekerja lebih terarah dalam pendirian gedung gereja.

Pada tanggal 22/11/1987 ; umat Kampung Duri yang tadinya berstatus “Stasi” dari Paroki Bunda Hati Kudus (Kemakmuran) secara resmi berubah menjadi Paroki mandiri yang disebut Paroki Kampung Duri diresmikan oleh Bapak Uskup Agung Jakarta yaitu Mgr. Leo Soekoto SJ (alm.). Pada saat itu Paroki Kampung Duri dipimpin oleh Pastor Julius A. Palit MSC.

Pada tahun 1997 ; Bruder Wilfried S. MSC selaku Ketua Yayasan Bunda Hati Kudus saat itu membuat surat yang ditujukan kepada Gubernur DKI Jakarta Bapak Sutiyoso yang intinya perubahan peruntukan gedung dari hunian menjadi Fasilitas Sosial (Fasos) dan memohon keringanan biaya retribusi. Hal ini dilakukan dalam rangka untuk memudahkan pembangunan aula serba guna yang lebih baik.

Pada tahun 1998 ; keluar Surat Gubernur tertanggal 19 Oktober 1998 sebagai jawaban dari surat permohonan perubahan peruntukan gedung, yang intinya menyetujui perubahan peruntukan gedung dari hunian menjadi Fasos dan memberikan keringanan pembayaran retribusi hingga 50 %.

Pada tahun 1999 (Januari) ; Bruder Wilfried S. MSC selaku Ketua Yayasan BHK membuat surat kembali kepada Gubernur DKI Jakarta Bapak Sutiyoso yang intinya mohon mempertimbangkan pemberian ijin untuk membangun rumah ibadah (Gereja) di komplek Sekolah Damai yang diberi nama Gereja Katolik Damai.

Pada tahun 1999 (Februari) ; Dewan Guru Karyawan yang diketuai oleh Bapak Anton Corebima dan Kepala Sekolah SMU Damai Bapak Beni Ende BA membuat surat yang ditujukan ke Gubernur DKI Jakarta Bapak Sutiyoso dengan dilampiri tanda tangan wakil dari umat di Paroki, wakil dari Kepala Sekolah yang ada di Paroki yang intinya juga memohon diberikan ijin membangun Gereja di komplek Sekolah Damai.

Pada tahun 1999 (April) ; dibuat Surat Keterangan dari Kelurahan Duri Selatan ditandatangani oleh Lurah Duri Selatan Bapak Sofyan Effendi tertanggal 01 April 1999 yang isinya menerangkan bahwa Gereja Damai benar pada saat itu berlokasi di Jl. Duri Selatan V Rt. 015 / 02, Kel. Duri Selatan. Surat Keterangan ini dibust untuk melengkapi permohonan ijin pendirian sarana ibadah Gereja.

Pada tahun 1999 (Juni) ; mendapat surat undangan dari Walikota Madya Jakarta Barat yang ditujukan untuk Pengurus Yayasan BHK tanggal 23 Juni 1999 ditandatangani oleh Bapak HP. Lumbun SH dengan pokok acara membahas permohonan pembangunan rumah ibadah yang disampaikan Yayasan BHK. Pada bulan yang sama juga membuat surat susulan untuk menjelaskan lebih lanjut surat yang dikirim bulan Januari 1999 yang ditandatangani oleh Bruder Wilfried S. MSC yang intinya memohon diberikan persetujuan prinsip penyesuaian peruntukan tanah dari hunian menjadi tempat Sarana Suka Ibadah (SSI) serta ijin membangun Gereja di Komplek Sekolah Damai.

Pada tanggal 2 Juli 1999 ; warga dan ulama sekitar Paroki Kampung Duri mengirim surat kepada Lurah Duri Selatan tertanggal 2 Juli 1999 ditandatangani oleh 24 warga dan ulama setempat, yang isinya menolak pembangunan Gereja dan meminta kepada instansi terkait untuk tidak memberikan ijin yang dikhawatirkan dapat menimbulkan terjadinya benturan fisik.

Pada tanggal 3 Juli 1999 ; Lurah Duri Selatan mengundang warga dan ulama setempat untuk membicarakan masalah ini di Kelurahan. Kesimpulannya bahwa warga menolak dan tidak setuju dengan adanya rencana pembangunan/ perbaikan Gereja Damai. Surat dilengkapi dengan daftar absensi 17 orang tokoh masyarakat yang hadir.

Pada tahun 2001 (April) ; Panitia Pembangunan Gereja (PPG) membuat surat kepada Lurah Duri Selatan yang intinya minta dipertemukan dengan ulama dan tokoh masyarakat setempat untuk menjelaskan permasalahan yang ada. Surat dilampirkan beberapa catatan / penjelasan untuk Lurah Duri Selatan tapi tidak ada realisasinya. Kemudian PPG mengadakan pertemuan lagi dengan Walikota madya Jakarta Barat Bapak Sarimun H yang hasilnya Walikota tidak keberatan atas pembangunan Gereja asalkan ada surat pernyataan tidak keberatan dari warga sekitar.

Pada tahun 2002 ; untuk mengatasi kebocoran dan kebanjiran gedung Gereja diperbaiki dan direnovasi agar lebih layak disebut sebagai Gereja. Dan pada tahun 2002 juga Gereja Damai diresmikan dan diberkati oleh Sekretaris Duta Besar Vatikan untuk Indonesia yaitu Mgr. Christophe Z. El-Kassis.

Pada tahun 2004 (Maret) ; PPG yang baru terbentuk dilantik di Gereja Damai menggantikan PPG yang lama, yang mana tugasnya sementara tidak lagi membangun Gereja tapi membangun Gedung Pastoran dan Gedung Sekretariat. PPG yang baru melakukan beberapa upaya, diantaranya :mengadakan rapat rutin dengan Dewan Paroki Kampung Duri tentang pelaksanaan pembangunan,  mengadakan presentasi Gambar bangunan Pastoran dan Gedung Sekretariat kepada tim Ekonom KAJ Yang dipimpin oleh Romo Royke Djakaria Pr. - Sertifikat atas tanah Gereja, Pastoran, lapangan parkir selesai diurus berikut Surat Bebas Bea PBB dan Bebas BPHTB yang diurus oleh Notaris KAJ Ibu Lieke Tukgali SH.  

Pada tahun 2005 (Mei) ; Yayasan Sekolah Damai membuat surat kepada RT setempat untuk memberitahukan pembangunan Gedung Pastoran dan Gedung Sekretariat, surat ditembuskan ke RW dan Lurah Duri Selatan.

Pada tahun 2005 (Juni) ; menerima surat dari RW 02, Kelurahan Duri Selatan dan lampiran Berita Acara Forum Warga Kelurahan Duri Selatan yang intinya menolak pembangunan Gedung Pastoran dan Gedung Sekretariat.

Pada tahun 2006 (Mei) ; PPG yang baru terbentuk menggantikan PPG lama dengan tugas mengupayakan ijin pembangunan Gedung Pastoran, aula, dan Gereja.

Pada tahun 2006 (Juni) ; seiring dengan terbitnya Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri, terlihat ada secercah harapan maka Pastor mengundang PPG untuk mengupayakan kembali permohonan ijin pembangunan Gereja dan fasilitas pendukungnya. Kesepakatan untuk tidak menggunakan nama yayasan melainkan nama Paroki, dan penggunaan nama PGDP Paroki Damai lebih tepat karena membawa nama seluruh umat Katolik yang bermukim di Kelurahan Duri Selatan dansekitarnya.

Pada tahun 2006 (Agustus) ; PPG mencoba kembali mengadakan pendekatan dengan warga terutama berkaitan dengan terbitnya Peraturan Bersama Dua Menteri mengenai Pendirian Rumah Ibadah. PPG semakin intensif melakukan dialog dengan pihak Kelurahan Duri Selatan dan Organisasi Kemasyarakatan yang ada di wilayah setempat dengan dimotori oleh Ketua PPG Bapak Anton Corebima.

Pada tahun 2006 (Oktober) ; mulai mengadakan pendekatan dengan warga sekitar untuk mendapat dukungan atas rencana pembangunan Gereja Damai di Jl. Duri Selatan V No. 29.

Pada tanggal 17 November 2006 ; bertepatan dengan Pembukaan Novena Kristus Raja dan menyambut HUT Paroki ke 19, sementara Perayaan Ekaristi berlangsung Gereja didatangi Tokoh Masyarakat Duri Selatan, Kapolsek Tambora, dan Kapolres Jakarta Barat Bapak Kombes Pol. Drs. Edward Pernong SH. Hadir juga pada saat itu Camat Tambora, Lurah Duri Selatan, dan para tokoh pemerintahan setempat lainnya. Dewan Paroki dan Panitia Pembangunan Gereja menindaklanjutinya dengan mengadakan pertemuan beberapa kali dengan para Tokoh Masyarakat dan Ketua RT dan RW di Kelurahan Duri Selatan.

Pada tahun 2006 Desember ; mendapatkan pernyataan sikap dari para Ketua RT dan RW, Dewan Kelurahan serta !0 Ormas Yang ada di Kelurahan Duri Selatan yang isinya memahami dan tidak keberatan atas rencana pendirian Rumah Ibadah / Gereja Katolik Damai. Ke 10 Ormas itu adalah : Citra Bhayangkara, Forum Betawi Rempug (FBR), KNPI, KOSGORO, Karang Taruna, Laskar Merah Putih, AMPG, LSM KAMAS, LSM PPB, dan Forum Masyarakat Betawi. Dan pada bulan yang sama kita juga mengikuti pertemuan yang diadakan oleh Polres Jakarta Barat dalam rangka Sosialisasi Pengamanan Perayaan Natal dan Tahun Baru.

Pada tanggal 17 Maret 2007 ; mengikuti acara Audiensi Gereja-gereja Katolik yang ada di Kotamadya Jakarta Barat dengan Bapak Walikota yang bertempat di Kantor Walikotamadya Jakarta Barat.

Pada tanggal 18 Maret 2007 ; menerima kunjungan peninjauan dari unsure Pemerintah Kotamadya Jakarta Barat yang ditindaklanjuti dengan mengajukan ijin membangun Gereja, inilah awal mulanya proses perijinan berlangsung setelah berpuluh-puluh tahun mencoba.

Pada tanggal 3 Juli 2007 ; mendapat IMB untuk pembangunan Rumah Tinggal (wisma kecil) dengan nomor IMB : 5860/IMB/2007.  

Pada tanggal 19 Juli 2007 ; mendapat IMB untuk pembangunan Rumah Tinggal (wisma sedang) dengan nomor IMB : 6514/IMB/2007 Pada Agustus 2007 ; mengajukan Permohonan Ijin Pembangunan Gereja kepada Gubernur DKI Jakarta. Surat Permohonan No. 011/PGDP/VIII/2007 tertanggal 03 Agustus 2007.

Pada tanggal 23 November 2007 ; menjelang Perayaan HUT Paroki ke 20 terjadi demo yang dilakukan oleh Forum Komunikasi Masjid, Mushola dan Majelis Taqlim (FKM3T) yang mengatasnamakan warga menuntut penutupan aktivitas di Gereja Damai, yang berujung pada surat penutupan dari Camat Tambora dengan No. 587/-1856.22 yang ditandatangani Camat Tambora Bapak Drs. Yanto Satyar,MM.

Pada tanggal 24 November 2007 ; peribadatan diungsikan di Aula Provinsialat MSC, dan saat itu Dewan Paroki dan PPG menggiatkan konsolidasi umat dan komunikasi dengan Keuskupan, FKUB, dan pihak-pihak terkait.

Pada tanggal 25 November 2007 ; HUT Paroki ke 20 dirayakan dengan amat sederhana di Aula Provinsialat MSC.

Pada tanggal 15 Desember 2007 ; Pastor Paroki bersama beberapa anggota FKUB Wilayah Jakarta Barat mengunjungi beberapa orang yang menggagas terjadinya demo penutupan Gereja pada tanggal 23 November 2007.

Pada tanggal 16 Desember 2007 ; setelah hampir sebulan lamanya, dengan rekomendasi dari FKUB, umat kembali beribadah di Gereja Damai di bawah pengawalan Polisi, dibantu Banser dan Garda Bangsa, Pagar Nusa dan para sahabat lainnya. Sejak saat itulah peribadatan berangsur-angsur normal kembali sampai saat ini.

Pada tanggal 24 Desember 2007 ; Perayaan Malam Natal hanya diadakan sekali yaitu pukul 17.00 dengan pengawalan pihak Kepolisian dibantu Banser, dan Garda Bangsa. Pada saat itu hadir pula Ketua DPRD DKI Bapak H. Ade Surapriatna dan Bapak Drs. Inggard Joshua.

Pada tahun 2008 (Januari) ; mengajukan kembali permohonan ijin pembangunan Gereja ke Gubernur DKI Jakarta, Surat Permohonan No. 001/PGDP/I/2008 tertanggal 02 Januari 2008.

Pada tahun 2008 (November) ; HUT Paroki ke 21 dihadiri oleh Ketua DPRD DKI Bapak Ade Surapriatna. Pada tahun 2009 (November) ; HUT Paroki ke 22 dihadiri oleh Ketua DPRD.

Pada tahun 2010 (Agustus) ; pembenahan dan perbaikan Gereja agar menjadi lebih indah dan ditangani oleh Panitia HUT Paroki ke 23 Pada tahun 2010 (Oktober) ; Dewan Paroki Pleno mengambil keputusan untuk pemasangan AC di dalam Gereja, hal ini dimaksudkan agar umat dapat beribadah dengan lebih nyaman.

Pada tahun 2010 (November) ; HUT Paroki ke 23 diadakan di halaman samping Gereja sekaligus untuk sosialisasi terhadap masyarakat sekitar.

Pada tahun 2011 (Januari) ; Romo Paroki dan beberapa orang Dewan Paroki melakukan kunjungan ke Tokoh-tokoh Agama dan Masyarakat di sekitar Gereja.

Pada Tahun 2011 (April) ; perayaan Paskah mendapat kunjungan dan ucapan Selamat Hari Raya dari Pemerintah setempat, antara lain Lurah Duri Selatan, Camat Tambora dan jajarannya.

Pada tahun 2011 (November) ; perayaan HUT Paroki ke 24 diadakan di halaman depan Gereja dan dihadiri juga oleh Pemerintah setempat, antara lain Lurah Duri Selatan, dan Camat Tambora, beserta jajarannya. Hal ini sepertinya terlihat bahwa dari Pemerintah setempat dan beberapa Tokoh masyarakat sekitar telah mengakui akan keberadaan Gereja Katolik Damai Kristus Paroki Kampung Duri.

Pada tahun 2011 (Desember) ; untuk pertama kalinya Perayaan Natal dihadiri oleh Lurah Duri Selatan dan Camat Tambora. Demikianlah perjalanan Gereja Damai Kristus Paroki Kampung Duri dari awal hingga memasuki usianya yang ke 25 tahun ini.

Ada banyak sekali kisah-kisah suka dan duka yang telah kita lalui bersama. Dan yang perlu diketahui bersama, bahwa sampai dengan saat ini masih ada beberapa permasalahan yang harus kita hadapi dan menjadi usaha kita bersama sebagai umat Paroki Kampung Duri bukan hanya tugas Pastor Paroki semata.

Beberapa permasalahan itu antara lain :

IMB RUMAH TINGGAL.  IMB yang didapatkan untuk membangun rumah ternyata memicu munculnya penolakan dari sebagian warga. Mereka menganggap bahwa pembangunan rumah tinggal merupakan pembangunan gereja terselubung, padahal sama sekali tidak benar. Dengan mempertimbangkan kerawanan tersebut di atas maka rencana pembangunan rumah tinggal untuk sementara ditangguhkan.

PERIJINAN GEREJA. Sampai sekarang umat Paroki Kampung Duri tetap menggunakan Aula Serbaguna sebagi tempat ibadah. Situasi umat dan warga masyarakat sudah jauh lebih baik dan jauh lebih kondusif. Maka peribadatan di tempat ini juga jauh lebih tenang daripada tahun-tahun yang lalu. 

Pada tahun 2012 ini Dewan Paroki kembali mengajukan permohonan perubahan peruntukandari SPd (Sarana Pendidikan) menjadi SSI (Sarana Sosial Ibadah). Hal ini dilakukan untuk memenuhi peraturan perundangan sesuai dengan Peratutan Bersama 2 Menteri no 9/8 Tahun 2006 . Proses masih terus berjalan dan entah sampai kapan kita belum tahu. Tetapi pengharapan tak boleh pudar. Kesulitan dan hambatan justru menjadi tantangan untuk semakin memurnikan iman kita semakin berakar pada Kristus.

Semoga demikian.


Kampung Duri, Oktober 2012 


Berita lainnya


 


Kembali ke berita