Galeri
Mechandise

Yap: Pendeta Tak Berjubah

Yap Thiam Hien ketika sedang membela kliennya. (foto: ist)


Friday ,06 September 2013

Kategori : Kisah Yap

“Bila anda hanya ingin memenangkan Perkara maka anda jangan pakai saya sebagai pengacara anda tetapi kalau anda ingin Menguak dan Menegakkan Kebenaran apapun hasilnya maka saya akan membela anda“

Bagi Todung, yang menjadi murid sekaligus sahabat Yap Thiam Hien, sikap tanpa pamrih seorang Yap  adalah sosok seorang pendeta tanpa jubah. Yap berkhotbah di pengadilan, sehingga dia kemudian dijadikan simbol sosok untuk anugerah hak asasi manusia.

"Tak ada yang pantas selain Yap sehingga harus diabadikan karena dia menunjukkan kepada Indonesia," tuturnya.

Dia memiliki tugas pastoral, seorang advokat putih yang baik dan bisa diteladani. Celakanya, banyak advokat hitam daripada advokat putih, dosa kolektif, seolah mereka dapat begitu saja terbebaskan dari tangan hukum. Hukum di Indonesia dirusak oleh advokat Indonesia yang seperti itu.

"Yap juga kerap dianggap naif oleh kawan-kawannya ketika bersikap tak berpolitik. Bahwa dia tak mungkin berada di ruang hampa politik. Tapi dia mengambil sikap itu, kendati dia tak bisa dianggap berhasil secara komersial. Yang patah arang itulah yang datang ke kantor Yap (untuk mengadukan persoalannya). Yap tak takut dan gentar," ujar Todung.    

Azyumardi Azra dalam acara 100 tahun dan peluncuran buku Yap Thiam Hien: Menembus Lintas Batas menyajikan makalah untuk Yap Thiam Hien Memorial Lecture mengatakan bahwa kita tak menganut monokulturalisme, tapi multikulturalisme, untuk kembali ke prinsip bineka tunggal ika. Termasuk figur Yap yang memiliki keimanan, tapi juga melintas batas.

"Founding father kita juga menyadari betul tentang keberagaman ini. Sekarang kita prihatin, nyatanya sampai kini kekerasan terhadap minoritas masih saja berlanjut dan merusak nilai kebinekaan kita," ujarnya.

Menurut Frans Hendra Winata, tak banyak pengacara yang dapat teguh bersikap seperti figur Yap Thiam Hien.

"Saya sering baca perjuangan dia di aktivitas hak asasi manusia. Sebagai advokat, dia mempertahankan keadilan dan kebenaran. Advokat patut meniru dan mengambil contoh jalan hidupnya untuk mempertahankan negara hukum secara gigih dan konsisten. Kendati, susah jadi advokat yang jujur, lurus dan tanpa pamrih. Betapa sulitnya," kata Frans.

Sosok yang lintas agama, lintas kelompok dan lintas ideologi ini baginya, dengan kemanusiaannya dapat menyatukan dan berkomunikasi tanpa halangan. Kalau sosok yang dikenal jujur ini masih hidup, tentulah dia akan prihatin melihat bagaimana kepastian hukum telah dipermainkan dan diperdagangkan.

"Itu harus diperjuangkan generasi muda. Itu bisa tercapai bila kaum muda kita mau mencontohnya," ujarnya.

(Sumber : Sinar Harapan)


Berita lainnya


 


Kembali ke berita