Galeri
Mechandise

Sidang Oknum Partai Nasdem Berlangsung Tertutup

Logo Partai Nasdem


Friday ,31 May 2013

Kategori :

Sidang pembacaan tuntutan kasus kekerasan oleh sejumlah orang yang terafiliasi dengan Partai Nasdem berlangsung secara tertutup. Seharusnya sidang tersebut berlangsung terbuka untuk masyarakat umum, terutama untuk para korban.

Sidang yang dilakukan pada Kamis sore, 30 Mei 2013, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak dihadiri oleh korban. Dalam persidangan tersebut, jaksa hanya menuntut para pelaku kekerasan dengan tuntutan delapan bulan kurungan penjara.

“Aliansi Metro menilai tuntutan ini tidak memenuhi rasa keadilan,” kata juru bicara dan kuasa hukum Aliansi Metro, Maruli Rajagukguk, Jumat (30/5).

Dalam pokok perkara yang disidangkan, kuasa hokum Aliansi Metro menilai jaksa menuntut para pelaku bukan dalam kasus kekerasan terhadap jurnalis dan aktivis, tetapi hanya mengarahkan pada perusakan terhadap peralatan aksi seperti mobil, alat pengeras suara dan lain-lain. Padahal, selain terjadi kerusakan berat pada mobil, alat musik dan beberapa perangkat aksi, sebanyak peserta aksi menjadi korban pemukulan.

Hal ini mengindikasikan bahwa jaksa pembubaran aksi dan pemukulan hanya dilihat sebagai peristiwa biasa, bukan kasus pelanggaran HAM dan kebebasan bereskpresi. Dalam persidangan, kelima terdakwa (MT, RS, MN, NH, DM) terang-terangan mengakui bahwa mereka melakukan pembubaran aksi dan perusakan alat-alat karena diperintah oleh seseorang, namun mereka tidak mau menyebutkan siapa yang meminta mereka untuk membubarkan aksi dan melakukan perusakan perangkat aksi.

Seharusnya jaksa maupun hakim bisa mendalami siapa yang memerintahkan mereka. Sebelumnya, dalam kesaksiannya, Aliansi Metro telah memberikan kesaksian dan keterangan seputar siapa otak pelaku kekerasan.

Kekerasan ini terjadi pada tanggal 16 Januari 2013 ketika para jurnalis dan aktivis masyarakat sipil yang tergabung dalam Aliansi Metro (Melawan Topeng Restorasi) dan Aliansi Sovi (Solidaritas Untuk Luviana) melakukan aksi solidaritas terhadap Jurnalis Perempuan yang di PHK sepihak dari Metro tv, Luviana.

Aksi dilakukan untuk menagih janji Surya Paloh yang akan mempekerjakan kembali Luviana di Kantor Surya Paloh di Jl. RP Soeroso, Gondangdia, Jakarta. Lima orang dari Aliansi Metro mengalami kekerasan, mobil serta perangkat aksi mengalami kerusakan berat.

Hingga kini tidak ada bentuk pertanggungjawaban ganti rugi dari pihak Partai Nasdem sebagai Pelaku kekerasan. Aliansi Metro (Melawan Topeng Restorasi) dan Aliansi Sovi (Solidaritas untuk Luviana) meminta kejaksaan agung untuk mengawasi kasus ini dan meminta kepada Mahkamah Agung serta Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk bersikap adil dan professional dalam mengadili kasus ini.

“Pengawasan dari Kejaksaan Agung dan Mahkamah Agung sangat penting karena sering terjadi berbagai kejanggalan selama proses persidangan,” kata Ferry Latief, saksi yang juga pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta. (Redaksi)  



Berita lainnya


 


Kembali ke berita