Galeri
Mechandise

Kisah Yap Thiam Hien - 2

Yap Thiam Hien seorang pejuang HAM


Friday ,17 May 2013

Kategori : Kisah Yap

"Yap Thiam Hien adalah penganut idealisme Mahatma Gandhi. Ia keras hati dan berpendirian teguh. Rata-rata kliennya punya satu ciri, yakni mereka yang dirampas hak hukumnya, yang dijauhkan dari keadilan, para pejuang hak asasi manusia, dan kebanyakan mereka berkantong cekak. Kepada mereka, Yap sering datang tanpa diminta untuk menawarkan pembelaannya, dan kerap tanpa dibayar sama sekali"

"John, demikian panggilan akrab Yap Thiam Hien, adalah sosok yang keras kepala, idealis namun sekaligus naif. Apa yang diyakininya sebagai kebenaran akan dibelanya secara hitam putih. Beberapa orang menilainya arogan dan marah atas sikapnya. Banyak yang gemetar saat berhadapan dengan lelaki berperawakan kecil pendek ini di ruang pengadilan. Tapi, lebih banyak lagi yang menaruh hormat padanya.

Yap tidak melihat profesi pengacara sebagai ajang untuk memperoleh keuntungan materi. Sebaliknya, ia meyakininya sebagai sebuah pelayanan. Ada tiga komitmen besar yang terus diperjuangkannya hingga akhir hayat, yaitu komitmen terhadap negara hukum (rechstaat), komitmen atas tegaknya keadilan (justice/rechsvaardigheid) dan komitmen terhadap hak asasi manusia (human rights/mensen rechten)"

"Kalau mau kalah berperkara, piihlah Yap Thiam Hien". Kalimat yang menyimpan kebenaran pahit itu kerap dilontarkan para advokat sejamannya. Kalimat senada juga selalu diucapkan sang meester van rechten tamatan Univesitas Leiden, Belanda (1947) itu kepada setiap calon kliennya. 

"Jika Saudara hendak menang berperkara, jangan pilih saya sebagai pengacara Anda karena pasti kita akan kalah. Tetapi, jika Saudara merasa cukup dan puas menemukan kebenaran Saudara, maka saya mau menjadi pembela Saudara."

Yap selalu hadir paling depan membela orang-orang tertindas. Ia membela siapa pun yang tertindas serta berupaya meengungkapkan kebenaran meski jalan yang harus ditempuhnya cukup sulit. Praktik-praktik kotor mafia peradilan tak urung membuat Yap nyaris putus asa untuk terus berjuang di forum pengadilan sebab ia melihat betapa kebenaran dan keadilan ternyata bisa diputarbalikkan.


(sumber: 20 Tahun Wajah HAM Indonesia 1992-2011)



Berita lainnya


 


Kembali ke berita