Galeri
Mechandise

Dua Perempuan Penerima Yap Thiam Hien Award 2001

Penerima Yap Thiam Hien Award 2001


lihat url


Thursday ,24 October 2013

Kategori : Suraiya Kamaruzzaman dan Esther Jusuf Purba

Yap Thiam Hien Award Tahun 2001 diserahkan pada Suraiya Kamaruzzaman dan Esther Jusuf Purba. Dua perempuan muda ini dianggap berhasil meneruskan perjuangan Yap Thiam Hien dalam menegakkan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia. 

Walau penghargaan Yap Thiam Hien sudah diberikan sejak sepuluh tahun lalu, baru tahun ini diperkenalkan lambang Yap Thiam Hien Award. Lambang tersebut berupa profil wajah Yap dengan tulisan "Fiat Justitia, Ruat Caelum" atau "Langit boleh runtuh, keadilan harus tetap ditegakkan", yang merupakan motto hidup Yap Thiam Hien.        

Suraiya, perempuan Aceh kelahiran 3 Juni 1968 ini aktif dalam pembelaan HAM terhadap perempuan Aceh. Sedangkan Esther, perempuan kelahiran 15 Januari 1971, ini  aktif  dalam perjuangan anti rasialisme dan diskriminasi.   

Dewan juri Yap Thiam Hien award tahun ini terdiri dari Soetandyo Wignjosoebroto, Trimoelja D. Soerjadi, Azyumardi Azra, Maria SW Sumardjono, dan Mely G. Tan. 

Apa alasan mereka memilih Suraiya dan Esther untuk menerima penghargaan ini?   

Mengapa mereka? 

Ayzumardi Azra menyatakan bahwa Suraiya memilki track record yang sangat solid dalam pemberdayaan perempuan dalam kehidupan sosial ekonomi dan pembelaan HAM bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan, baik militer maupun seksual, di daerah konflik Aceh.   Selain itu Azyumardi menilai, perjuangan Suraiya tidak hanya dilakukan secara langsung di daerah konflik, melainkan juga melalui berbagai forum seminar dan workshop. 

Selain selalu mengangkat persoalan kekerasan perempuan yang terjadi di Aceh dalam forum-forum nasional dan internasional,  ia juga memfasilitasi dan melaksanakan berbagai pelatihan bagi wanita Aceh di daerah konflik.   

Menurut Azyumardi, Suraiya juga melakukan diseminasi informasi dan sekaligus menggalang opini tentang masalah kekerasan terhadap perempuan dalam berbagai media lokal dan nasional. Khususnya, melalui newsletter "Kabar dari Flower" yang diabdikan untuk kepentingan pemberdayan dan perlindungan perempuan di darah konflik di Aceh.   

Alasan lain, upaya pemberdayaan dan perlindungan juga dilakukan oleh Suraiya melalui pengorganisasian, pendampingan dan advokasi terhadap perempuan yang menjadi korban kekerasan.   

Sementara, Maria Sumardjono menyatakan jika perjuangan yang dilakukan oleh Suraiya dilakukan dalam lingkup das sein (yang sebenarnya) atau perjuangan di lapangan, maka Esther lebih banyak berjuang dalam lingkup das sollen (yang seharusnya), yaitu dengan membuat perangkat hukum untuk mencegah dikriminasi dan rasialisme. Yaitu, dengan menyusun RUU Anti Diskriminasi Ras dan Etnis.   

Menurut Maria, Kerusuhan Mei 1998 yang disusul dengan berbagai kerusuhan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Poso, serta Ambon, jelas bermuatan diskriminasi ras, etnis, dan agama.   

Ke depan, dengan berlakunya UU Pemerintahan Daerah, yang mulai dirasakan adalah priimodialisme seiring dengan kesadaran daerah untuk mengembangkan potensi masing-masing, termasuk potensi SDM-nya. Bila hal ini tidak diantisipasi, dikriminasi etnis ras dan agama itu bisa dapat berkembang menimbulkan konflik yang dapat berakibat pada disintegrasi bangsa.   

"Dalam kaitan inilah upaya Esther mengusulkan RUU tersebut merupakan upaya yang strategis dan tepat waktu. Dan berdasarkan pertimbangan tersebut dewan juri memilih Esther," ujar Maria.   

Profil Suraiya 

Suraiya Kamaruzzaman, sejak masih berusia 20 tahun dan duduk di tahun ketiga sebagai mahasiswa telah bertekad untuk bergulat dalam pembelaan HAM. Khususnya, bagi perempuan Aceh yang menjadi korban kekerasan militer sekaligus kekerasan seksual di daerah konflik.   

Pilihan ini jelas mengandung bahaya dan resiko yang sangat besar. Karena perjuangan dilakukan di daerah konflik yang melibatkan operasi militer dan tindak kekerasan. Dalam kegiatan-kegiatan advokasi dan pendampingan, Suraiya seringkali terjepit dan dicurigai oleh aparat keamanan POLRI-TNI dan GAM yang terlibat konflik dan kekerasan.   

Ketika perjuangan Suraiya bersama kawan-kawannya di Flower Aceh, yang didirikan pada 1989, melewati tahun kesepuluh, untuk pertama kali mereka mendapat teror dan tekanan fisik dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM).   

Namun, hal itu tidak menyurutkan langkah Suraiya. Dosen di Unsyiah ini bersama rekan-rekannya kemudian membentuk Kelompok Kerja Transformasi Gender Aceh (KKTGA) pada 1997 dan kemudian Suloh Aceh pada 1998 serta kini menggerakan Relawan Perempuan untuk Kemanusiaan.   

Lembaga ini selain bertujuan untuk memberdayakan kehidupan sosial ekonomi perempuan juga untuk membantu para pengungsi, khususnya perempuan dan anak-anak di berbagai tempat pengungsian.   

Sebagai catatan, sampai akhir tahun 2000 tercatat hampir 300.000 pengungsi yang meninggalkan kampung halamannya. Sebagian besar pengungsi adalah perempuan dan anak-anak, termasuk ibu hamil dan bayi-bayi yang baru lahir.   

Profil Esther 

Esther Yusuf Purba yang terlahir dengan nama Sim Ai Ling, sebagai warga keturunan Tinghoa, telah lama merasakan sendiri berbagai bentuk diskriminasi. Sejak mahasiswa tingkat akhir dan bergabung dengan LBH Jakarta, Esther telah aktif membela kasus-kasus pelanggaran HAM yang diderita masyarakat kecil.   

Namun  sejak terjadinya kerusuhan Mei 1998, Esther mulai intens memperjuangkan penghapusan rasialisme dan diskriminasi. Esther juga aktif dalam pembelaan terhadap korban tragedi Mei 1998 tersebut.   

Pada 1998 itu juga Esther bersama teman-teman dan almarhum suaminya mendirikan SNB (Solidaritas Nusa Bangsa) yang mengkhususkan diri dalam perjuangan anti diskriminasi dan rasialisme.   

Sebagai ketua Dewan Pekerja SNB, ibu dua anak balita ini selain mengkampanyekan soal anti diskriminasi ras dan etnis juga gigih memperjuangkan terwujudnya UU ADRE (Anti Diskriminasi Ras dan Etnis).


 


Kembali ke berita